resensi buku muslimah feminisme


Resensi Buku
Oleh: Syifa Fauziyah

Judul               : Muslimah Feminisme
Penulis             : Neng Dara Affiah
Halaman          : 122 hlm
Tebal               : 13 cm x 12 cm
Penerbit           : Nalar
Tahun              : 2009

            Neng Dara Affiah membuat sebuah buku yang menceritakan tentang pribadinya atau disebut dengan autobiografi. Dia menjelaskan tentang bagaimana kehidupannya sehingga sampai pada sebuah pergerakan perempuan yaitu Muslimah feminisme. Neng Dara Affiah membawa para pembaca untuk ikut merasakan dalam cerita dalam bukunya. Neng Dara Affiah membungkus cerita dalam buku ini kedalam semangat sebuah perjuangan namun bukan hanya tentang semangat tapi ada juga tentang rasa cinta, persahabatan dan kekeluargaan. 
            Dalam buku muslimah feminisme menceritakan secara detail tentang sebuah gerakan perempuan yang dilatarbelakangi dari keluarga, pendidikan, organisasi dan pemikiran-pemikiran orang lain. Neng Dara Affiah namanya. Dia adalah salah satu dari perempuan Indonesia yang melakukan peregerakn perempuan namun pergergarakan ini lebih kepada muslimah. Dia terlahir dari keluarga terhormat dan agamis, sehingga membuat dia dari kecil diajarkan dengan ajaran-ajaran agama islam. Keluarga besarnya adalah orang-orang yangkecenderungan lebih kepada NU atau Nadhatul Ulama, jadi di keluarganya masih mengenal tentang tahlilan, 40 harian atau yang lainnya. Sehingga membuat polapikirnya terdokrin dengan prinsip-prinsip NU nya. Namun, sejak di sekolah apalagi pada saat ibunya menjadi kepalasekolah di salah satu sekolah di serang, banyak kirimin-kirimanbuku yang berdatangan ke sekolah ibunya. Dari buku-buku tersebutlah yang membuat dia memilikipemikiran yang kritis, salah satau bukunya favoritnya adalah majalah islam panjimas yang didalamnya banyaka gagasan-gagasan pemikiran Nurkholis Majid, Harun Nasution dan lainnya, gagasan pemikiran mereka adalah tentang islam progresif. Menurut dia pemikiran-pemikiran mereka itu sangatlah menarik.
            Ketika dia pesantren di pesantren modern, dia merasa ada hal yang tidak mwakili isi hatinya.karena ada salah satu organisasi yang diman organisasi tersebut adalah organisasi islam atau uswah. Dalam organisasi ini memang mengajarkan tentanga ajaran agama islam,namun dia merasa bahwa ajaran-ajaran yang ada dalamorganisasiini membuat dia dituntut untuk menutup diri dan jauh dari lingkunganya. Sehingga membuat dia tidak nyaman ada di pesantren tersebut,akhirnya dia meminta untuk pindah sekolah dan pesantren. Dia dipindahkan ke sekolah dan pesantren yang tradisional yang dimana ajaran-ajaran islam di pesantren tersebut masih sangatlah kental dan alat-alat musik atau permainan musik selain rebana tidak diperbolehkan oleh pihak pesantren. Sehingga dia berpikir mengapa tidak di perbolehkan padaha para ilmuwan-ilmuwan islam pun ada yang dakwah menggunakan alat music atau secara memainkannya. Beranjak dewasa dia pun lulus dari pesantren tersebut, dia berpikir ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya dan dia memilih mengikuti pamannya yang melanjutkan ke perguruan tinggi IAIN Jakarta. Padahal pada waktu itu banyak orang yang berpikiran negative terhadap perguruan tinggi IAIN Jakarta. Niatan dia pun disetujui oleh orang tuanya dan dia mengambil jurusan perbandingan agama yang dimana membuat dia semakin mempunyai wawasan yang sangatluas tentang agama dan dari perguruan tinggi ini pun dia mengenal organisasi-organisasi yang ada di luar kampus yang mempolakan pemikiran dia sehingga dia pbergabung oada forum mahasiswa ciputat yang dimana anggotanya lebih cenderung berorganisasi HMI. Dalam forum ini, dai merasa bahwa inilah yang sesungguhnya karena banyak sekali masalah-masalah yang di diskusikan terutama tentang feminisme atau mencari keadilan untuk kaum wanita. Dari sinilah semangatnya tercipta untuk melakukan pergerakan-pergerakan untuk wanita atau lebih singkatnya mencari keadilan bagi wanita. Karena dia merasa ketika kecil ibunya benar-benar yang mengurusi segala sesuatu yang ada dirumah, sehingga dia memiliki kesadaran senduri bahwa harus adanya keadilan dalam suami istri. Ketika dia memilih pasangan hidup pun, dia ditentang oleh ayahnya namun dia pun tidak ingin mengikuti kemauan ayahnya karena pilihan pasangan hidup adalah urusan dia bukan ayahnya, semua orang merasa terkejut karena sikapnya yang seperti itu karean tidak ada sejarahnya di kampong dia ada anak yang menolak kemauan ayahnya atau memarahi ayanhya sekalipun ayahnya adalah kyai dia kampong tersebut. Ibunya sampai berpikir apakah tinglah laku seorang anak sekolah seperti ini yang berani memarahi ayahnya dan menolak kemauan ayahnya. Sehingga terjadilah masalah yang berat dalam keluarganya yang membuat dia sakit parah karena mentalnya yang agak bermasalah. Sehingga dia pun diijinkan untuk menikah dengan pilihannya sendiri dan ayanhnya tidak lagi memaksakan kehendaknya kepada ibu anak-anaknya.
            Feminisme yang ada di pola pikirnya ini terbentuk karena dari neneknya dia terinspirasi oleh neneknya yang sangan mandiri dalam hal apapun dan memerdekan dirinya sendiri tidak ingin diikat oleh apapun dan siapapun. Padahal neneknya bukan orang feminis atau mengetahui tentang feminis namun feminis terebut melekat dan tercermin dalam diri neneknya. Setalah itu ikut kedalam solidaritas perempuan yang dimana membahas tentang keadilan perempuan di Negara Indonesia dan samakin lama tidak sangka adanya kebijakan tentang keadilan gender dalam halapapun dalam Negara ini. Selama perjalanannya, feminisme bukan hanya ada di Negara barat namun feminisme ada di Indonesia yang mayoritas islam walau ada pertentangan denga para ulama karena merasa tidak cocok jika feminisme itu dalam islam disebabkan dikembangkan dari barat.
            Ternyata feminisme tersebut hadir dalam organisasi islam seperti Fatayat NU. Perkembangan feminisme di dalam Fatayat NU dilandasi pada Al-Quran dan Hadis. Pada Fatayat NU feminismenya bisa kita lihat dari adanya aktivis perempuan yang melakukan perjuangan untuk wanita. Selain itu dia pun pada masa orde dan reformasi turut andil dalam pergerakan-pergerakan pada zaman tersebut untuk meraih keadilan.
            Kelebihan dalam buku ini adalah para pembaca diajak untuk berimajinasi dengan cerita yang dibungkus dalam buku ini, membuka wawasan dan banyak pelajaran-pelajaran yang didapatkan oleh para pembaca. Buku ini cocok untuk pelajar maupun mahasiswa yang ingin lebih mengetahui bagaimana feminisme di dalam islam itu berkembang.
            Kekurangan dalam buku ini ada beberapa kata yang sulit dimengerti oleh pembaca dan ada salah satu cerita yang diulang kembali dalam cerita selanjutnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer