Perempuan vs Pernikahan
Masyarakat di era modern seperti sekarang, masih banyak yang berpandangan perempuan yang sudah kepala dua ke atas sudah waktunya untuk menikah, jika lewat dari angka 25 disebut perempuan tua atau tidak laku. Pikiran jahat seperti itu masih banyak berkeliaran di zaman sekarang. Padahal belum tentu perempuan yang belum menikah di umur tersebut dia tidak laku atau pun menjadi perempuan tua. Tetapi perempuan punya tujuan hidup sebelum menikah, ada hal-hal yang ingin dia capai terlebih dahulu dan membuat orang tua bahagia. Atau pun kenapa dia belum menikah, mungkin ada hal yang membuat dia trauma untuk memulai hubungan dengan lawan jenis. Banyak factor perempuan belum menikah di umur tersebut.
Pernikahan itu patokannya bukanlah
tentang umur, namun tentang kesiapan dari perempuannya. Karena setiap perempuan
memiliki waktunya masing-masing untuk melakukan pernikahan. Tidak bisa
diburu-buru harus ada pertimbangan dan persiapan matang untuk melangkah lebis
serius. Harus diingat pernikahan itu bukan suatu perlombaan, siapa yang pertama
menikah maka dia pemenangnya dan siapa yang terakhir maka dia kalah. Kalau terus
ditanamkan pemikiran tentang patokan umur atau perlombaan akan menjadi
standarisasi untuk perempuan melangkah untuk menikah. Hal ini akan menyebabkan kesehatan
mental mereka terganggu.
Terkadang perempuan merasa minder,
ketika banyak omongan dari orang lain yang akhirnya membuat dia merasa insecure
dengan dirinya sendiri. Meskipun pertanyaan itu dibungkus dengan candaan namun
namanya perasaan seseorang tidak ada yang tau, apakah dia sedang lelah mengahadapi
perkataan-perkataan tentang pernikahan. Kaya ditanya kapan nikah?, Nyusul lah!,
noh dia udah nikah masa kamu yang udah umur segini belum. Itu kata-kata ajaib
yang ngebuat perempuan ngerasa “gua layak engga ya jadi pasangan orang lain,
gua bisa engga ya, kekurangan gua banyak banget, gua jelek, gua ini gua itu.
Insecure mereka makin jadi-jadi setelah kata-kata ajaib itu dikatakan.
Perempuan yang masih lajang di umur segitu,
mereka akan mencari kesibukan untuk menghilangkan pikiran-pikiran dia tentang
perkataan orang lain tentang pernikahan yang membuat dia terluka. Selain itu,
dia juga berusaha memperbaiki dan mendekat kepada Sang Khaliq, agar dia lebih
tenang menghadapi netizen-netizen yang tidak tau proses apa yang sedang dia
jalankan. Dia juga berusaha untuk meng-upgrade dirinya sendiri agar ketika
datang laki-laki yang tepat menurut Allah, dia berpikir agar dia dan
pasangannya sama-sama beruntung ketika saling memiliki.
Perempuan semakin dia diberikan hal seperti ini, dia akan berusaha membuat dirinya kuat. Semakin lama dia akan berusaha untuk tidak peduli dengan perkataan orang lain. Dia hanya berusaha menjadi yang terbaik dan membuat orang tuanya bahagia. Dalam doanya dia hanya melangitkan kepada Allah untuk diberikan pendamping yang terbaik menurut Allah. Karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah. Jadi, perempuan ketika ada di fase seperti ini mereka berusaha menerima segala sesuatu yang Allah tetapkan meskipun tidak sesuai dengan keinginannya.
Komentar
Posting Komentar