Dejavu Covid-19 (Dunia Pendidikan)

Dejavu tepatnya dengan kejadian dua tahun lalu, pertama kali Indonesia dinyatakan adanya kasus Covid-19. Masyarakat menjadi panik dan ketakutan berlebihan. Dunia pendidikan pun ikut merasakan dampak dari kasus Covid-19 pada tahun 2020. Semua pendidikan dari mulai jenjang terkecil sampai jenjang tertinggi harus melakukan pembelajaran secara jarak jauh atau yang biasa disebut dengan sekolah daring. Hal ini benar-benar merubah pola pendidikan, yang pada awalnya kita selalu sekolah tatap muka dengan guru bisa bersenda gurau dengan teman, namun ketika sekolah daring merubah kita sekolah dari rumah tidak bisa bersenda gurau secara langsung hanya bisa melalui sosial media. Membuat siswa maupun guru merasakan ketidaknyamanan sekolah daring, banyak siswa yang tidak paham, guru harus sepintar mungkin melihat tugas mereka, sama-sama overthinking mengenai pemahaman siswa dan guru.

Dunia perkuliahan pun sama, apalagi yang semester akhir mereka harus merasakan bimbingan daring, sidang daring, dan wisuda daring, mereka pun disebut dengan mahasiswa lulus jalur corona. Padahal menjadi lulusan jalur corona itu tidak seenak yang dibayangka oleh orang lain. Kita harus memiliki rasa sabar yang luar biasa ketika bimbingan, menunggu balasan chat dari dosen, dan yang tidak menyenangkan ketika dijelaskan kita hanya pura-pura paham namun sebenarnya masih banyak pertanyaan. Sidang online itu menjadi hal yang diluar ekspetasi, kita harus menyiapkan laptop, jaringan, dan yang pastinya materi dari malam sebelum sidang. Belum lagi ketika jaringannya tidak bersahabat kita harus mencari tempat yang jaringannya kuat kalau tidak sidang kita berantakan. Wisuda online juga sama tidak sesuai dengan ekspetasi selama 4 tahun dengan kemeriahannya, bertemu dengan teman, dan merasakan sensasi yang pastinya ditunggu selama 4 tahun.

Kini kejadian dua tahun yang lalu kembali terulang sama persis di awal bulan hanya berbeda tahun saja 2020 dengan 2022. Harus mulai lagi dari awal untuk menghadapi pandemi yang muncul kembali, harus merubah ulang rencana, dan harus menjaga kesehatan.

2022 yang awalnya berpikir kita mulai bisa hidup dengan normal seperti tahun 2019, namun kenyataannya kita harus merasakan kembali hal yang sama. Dunia pendidikan pun sama, harus mengkaji ulang kembali pembelajaran yang awalnya sudah bertatap muka tetapi harus berubah kembali pembelajaran jarak jauh. Merubah konsep pembelajaran yang sudah dirancang sebelumnya dan membiasakan kembali baik guru maupun siswa untuk melakukan pembelajaran jarak jauh.

Banyak siswa maupun guru yang mengeluh harus mengalami pembelajaran jarak jauh lagi. Beberapa siswa mengeluh karena mereka harus belajar melalui google meet atau zoom, belum lagi jaringannya yang lemah membuat mereka tertinggal materi yang akhirnya mereka tidak paham sama sekali. Tugas yang tidak ada hentinya membuat mereka harus mengerjakan sesuai dengan waktunya dan tidak bisa bertemu dengan teman-temannya padahal bersenda gurau dengan teman bisa melepas penat.

Guru pun merasakan hal yang sama, memutar otak kembali bagaimana caranya pembelajaran jarak jauh ini bisa kondusif dan siswa paham dengan materi yang disampaikan. Menghadapi tugas-tugas anak yang sama persis dari awal sampai akhir, yang akhirnya berpikir ini bukan tugas individu jadinya akan tetapi kerja sama atau menyontek. Berpikir ulang bagaimana caranya ulangan atau tes agar siswa tidak melihat di google dan benar-benar mengikuti kata yang ada di google. Sehingga guru dan siswa memiliki keluh kesah namun berbeda porsinya.

Covid-19 datang di tahun yang berbeda dengan sensasi yang berbeda juga salah satunya ya di dunia pendidikan. Di 2020 pertama kali pembelajaran jarak jauh, mereka harus beradaptasi mulai dari cara belajar dan teknologi. Namun di tahun 2022, karena sudah merasakan pembelajaran jarak jauh mereka tidak perlu beradaptasi seperti tahun 2020, akan tetapi mereka harus membangkitkan semangat kembali untuk melakukan pembelajaran jarak jauh.

Dunia perkuliahan pun sama, awalnya sudah ada berita bahwa mulai tahun ini kuliah bisa tatap muka, namun harus merasakan kuliah online kembali, bimbingan online, sidang online dan wisuda online. Merasakan hal yang sama namun di waktu yang berbeda, semangat mereka harus dipacu kembali agar tidak tertinggal jauh.

Semoga hanya kali ini dejavu mengenai covid-19, untuk tahun-tahun berikutnya tidak terulang lagi hal yang sama meskipun sensasi berbeda. Semangat mematuhi peraturan dan protokol kesehatan.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer